-->

Hallo!

Klik salah satu tim kami di bawah untuk mengobrol di WhatsApp atau mengirim email kepada kami klik disini

Programmer Customer Service 1
62895623526803
Optimization Customer Service 2
6282377754543
Hubungi kami dari pukul 00:09 sampai pukul 21:00
Hallo gan! Ada yang bisa kami bantu?

Iklan Billboard 970x250

Tidak Sengaja Mengunjungi Luweng Sampang

Tidak Sengaja Mengunjungi Luweng Sampang

Tidak Sengaja Mengunjungi Luweng Sampang
Akhir Januari 2020, aku berencana pergi ke Curug Tegalrejo Gunung Kidul. Curug itu terletak di perbatasan antara Yogyakarta dan Kabupaten Klaten. Bersama seorang teman, aku memacu kendaraan melalui Piyungan, jalan alternatif ke Gunung Kidul. Hari itu, Curug Tegalrejo adalah tujuan kedua kami. Sebelum ke sana, kami terlebih dahulu mengunjungi air terjun Kedung Kandang. Tapi di postingan kali ini, aku akan fokus menuliskan pengalaman kami yang gagal mengunjungi Curug Tegalrejo, namun berakhir menyenangkan di curug lainnya, yaitu Luweng Sampang.

Tidak Sengaja Mengunjungi Luweng Sampang
Ini yang kami kunjungi sebelum ke Luweng Sampang. Gambar dokumentasi pribadi

Bagaimana kok bisa gagal? Itulah bagian serunya. Perjalanan ke Luweng Sampang kami awali dari Kedung Kandang, Nglanggeran, Gunung Kidul. Dari sana, terdapat penunjuk arah ke kabupaten Klaten. Kami tidak dapat mengandalkan peta digital, tidak ada satupun ponsel kami yang menerima sinyal telepon di wilayah itu. Berbekal keyakinan yang hanya berada di angka 70%, kami percaya diri melaju di jalanan kecil selebar satu badan truk. 
Seperti yang telah kusebutkan sebelumnya, kami sebenarnya hendak pergi ke Curug Tegalrejo. Curug tersebut lebih mudah dicapai dari Klaten. Dari Nglanggeran, kami disuguhi pemandangan yang jarang kami lihat di perkotaan, barisan bukit Patuk. Di depan kami, lembah seperti dihamparkan layaknya seseorang sedang menggelar tikar. Sepanjang perjalanan, pucuk-pucuk gunung tak henti memenuhi pelupuk mata, mengusir kantuk karena lelah dari Kedung Kandang. Di kanan-kiri jalan, terkadang kami melalui perkampungan penduduk setempat, sawah, jurang yang dalam, sekolah, barisan pohon tepi hutan. Kami juga beberapa kali berhenti untuk mengabadikan gambar. 


Saat sampai di simpang tiga, kami berhenti. Tidak ada penunjuk arah yang bisa kami jadikan acuan.
"Bagaimana ini? Belok kiri, atau kanan?" tanyaku pada teman. Namanya Kusuma. 
"Tidak tahu," jawabnya. Kami berdua tersesat dan tak tahu arah jalan pulang tidak bisa menggunakan peta. Setelah beberapa saat kebingungan, kami putuskan untuk bertanya pada seorang penduduk, bapak-bapak usia paruh baya.
"Oh kalau Klaten lewat jalan ini, Dik," bapak-bapak itu menunjuk ke arah kanan, ramah membantu kami. "Belok kiri sini juga bisa. Tapi nanti muter jauh," lanjutnya. Aksen Jawanya kental sekali. 
"Apakah itu satu arah dengan Curug Tegalrejo?" tanya Kusuma. Bapak tersebut mengerutkan kening, berpikir sebentar. "Iya, Dik, satu arah. Terus lewat jalan ini aja, nanti ikuti plakat arah Gedangsari," jelasnya pada kami. 
Setelah mengucapkan terima kasih, kami lalu kembali melanjutkan perjalanan sesuai petunjuk Bapak tersebut. Perjalanan yang kami kira sebentar lagi sampai, ternyata harus masih melewati jalan di perbukitan. Dan seperti lazimnya di gunung, jalanan yang kami libas lebih banyak menanjak dan menurun daripada datar. Hampir setengah jam kemudian, kami kembali menemui pertigaan. Lagi-lagi, tanpa petunjuk arah. Kami tidak akan mengambil resiko memilih salah satu belokan dengan asal. Jadi kami bertanya lagi pada dua orang yang kebetulan berada di sana. 
"Wah kalau Curug Tegalrejo masih jauh," jawab salah seorang dari mereka. Aku tidak terlalu menangkap yang mereka katakan, petunjuknya rumit sekali. Mereka menyebut sekolah, SMP Muhi, jembatan kecil, lalu belok kiri lurus wae kanan. Oke baiklah, intinya, curug tersebut masih jauh. 
"Oh iya, Pak, matur nuwun (terima kasih). Pareng, nggih (pamit ya)," kami pamit dan meneruskan perjalanan. Hampir setengah jam kemudian, kami mulai pesimis. Petunjuk arah ke Gedangsari itu tak kunjung kami temukan. Kami yakin sudah berada di jalan yang benar. Masalahnya, langit di atas tampak mendung sejak kami meninggalkan Kedung Kandang. Sesekali rintik gerimis mengenai kami. 
"Bagaimana? Masih ingin ke Tegalrejo?" tanya Kusuma. Ia memperlambat laju motor. 
"Tidak tahu," kataku. Kami juga mulai lapar. Tenaga kami terkuras saat menuruni Kedung Kandang. Nah saat itulah, mata kami tertumbuk pada batu-batu eksotis di sungai pinggir jalan. 
Tidak Sengaja Mengunjungi Luweng Sampang
Ini yang menyebabkan tenaga kami terkuras. Sumber gambar dokumentasi pribadi.

"Itu apa ya?" tanyaku. Aku penasaran. Tempat itu asri, teduh, banyak pohon, dan batu-batu yang berserakan di sungai itu sungguh memikat. Aku ingin berhenti. Kusuma juga begitu. Namun kami masih bimbang antara berhenti sebentar atau lanjut. 
Tidak Sengaja Mengunjungi Luweng Sampang
Gambar dokumentasi pribadi

"Kita tanya sekali lagi ya," usul Kusuma. Aku mengangguk, memutar motor dan berhenti di sebuah rumah yang lebih tampak seperti parkiran. Ada dua motor yang terparkir di sana dan seorang kakek tua yang duduk di belakang meja. Sepertinya ia menunggui tempat parkir tersebut. Menggunakan bahasa Jawa halus, aku menanyakan arah Curug Tegalrejo. Kakek itu tidak menjawab dengan jelas. Aku hanya bisa mendengar kata 'adoh' yang artinya jauh. Aku berpandangan dengan Kusuma. "Mau mampir ke sini dulu?" tanyanya. Aku diam sejenak sebelum mengiyakan. Baiklah, batu-batu di sungai tadi sudah membuatku penasaran. Kami memarkir motor dan turun ke bawah. 
Tidak Sengaja Mengunjungi Luweng Sampang
Gambar dokumentasi pribadi

Sampai di sungai, aku melonjak senang. Kalau saja kita meneruskan perjalanan, aku mungkin akan menyesal dan terus menerus penasaran sampai rumah. Batu-batu itu benar-benar unik. Gerusan air yang mengalir mengikis permukaan batu dan membentuk motif bergaris. Sungai itu tidak terlalu dalam, airnya beriak saat mengalir. Ada dua air terjun kecil (kami lebih suka menyebutnya curug). Curug pertama mengalir  melewati celah sempit di antara dua batu besar, tingginya hampir lima meter. Atau tiga? Entahlah. Angka lima itu muncul blog-blog yang kubaca sepulang dari sana. Sedangkan tiga itu adalah perkiraanku sendiri. Beberapa meter ke bawah, curug lainnya hanya setinggi kaki orang dewasa. 
Di curug itu terdapat tiga gazebo yang letaknya berjauhan. Ada tangga dari cor semen untuk memudahkan pengunjung kembali ke atas. Tempat ini masih sangat sepi. Sepertinya juga belum dikelola dengan serius sebagai potensi wisata. Tidak ada fasilitas toilet umum dan warung makan. Well, kami benar-benar lapar.
Tidak Sengaja Mengunjungi Luweng Sampang
Gambar dokumentasi pribadi

Kami tidak jadi meneruskan perjalanan ke Curug Tegalrejo. Hari sudah beranjak sore. Setelah puas memotret batu (ya, kami hanya memotret batu dan air), kami segera naik ke parkiran. Tidak ada tiket masuk yang harus kami bayar. Kami hanya membayar parkir sebesar lima ribu per motor pada kakek tua tadi. Walaupun gagal ke Curug Teglrejo, setidaknya kami puas dengan Luweng Sampang tadi. Curug Tegalrejo bisa kami kunjungi lain waktu.

Sepulang dari Luweng Sampang, sampai di rumah dan sudah bersih-bersih, aku bergegas mencari tahu tentang tempat itu. Curug mini ini berada satu arah dengan Curug Tegalrejo, awal tujuan kami. Alamat tepatnya berada di Jalan Juminahan, Sampang, Mongkrong, Sampang, Gedang Sari, Kabupaten Gunung Kidul. Dinamakan Luweng Sampang karena tempat itu memang seharfiah namanya. Luweng berarti lubang dalam bahasa Jawa. Sedangkan Sampang adalah tempat dimana terdapatnya lubang tersebut. Luweng atau lubang yang dimaksud adalah celah yang membentuk air terjun di antara dua batu besar. Tertarik mengunjungi tempat ini? Yah walaupun terpencil dan tersembunyi, tidak ada salahnya mengagendakan liburan kesini. Suara gemericik air dan sejuknya udara di sekitar bisa menjadi pereda stres yang melanda saat berhari-hari bekerja. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan ya.

Baca Juga
SHARE
Salis Nur
Hi, I'm Salis. I have interest on crochetting and postcrossing. I crochet many things, bags, clothes, hats, and many more.
Subscribe to get free updates

Related Posts

3 Comments

Iklan Tengah Post

Total Pageviews